Perlu perjuangan khusus untuk menjangkau Pura Pucak Mangu ini. Umat Hindu di Bali yang nangkil mesti butuh tenaga ekstra agar bisa sampai di pura ini.
Sebab, berada di ketinggian 2.096 meter di atas permukaan laut. Posisinya berada di puncak Gunung Mangu yang kondisi hutannya masih sangat terjaga.
Pemedek yang nangkil ke pura ini haru memiliki stamina yang kuat. Sebab, pemedek melewati jalur pendakian yang cukup terjal dan menantang.
Meski demikian banyak pemedek yang Sudah membuktikan untuk mampu nangkil ke pura ini.
Pendakian menuju Pura Pucak Mangu terbagi menjadi empat pos. Pos satu dan dua terbilang mudah dilalui dengan medan yang landai.
Namun, memasuki pos tiga dan empat, para pemedek harus lebih berhati-hati karena medannya yang curam dan licin.
Kendatipun medannya menantang, rasa lelah akan terbayar lunas saat mencapai puncak dan melihat keindahan panorama alam Bali yang menakjubkan dari Pura Pucak Mangu.
Keberadaaan di pura kahyangan jagat ini memberikan ketenangan jiwa dan kedamaian bagi pemedek.
Ditambah dengan pepohonan yang sangat rindang di areal pura, menambah suasana hening dan tenang bagi pemedek yang nangkil. Selain itu, udara yang sejuk menjadi bonus bagi pemedek untuk mendapatkan udara segar.
Baca Juga: Mendak Toya di Pura Batukaru: Ritual Memohon Kesuburan, Dilakukan Tiga Desa Pemucuk
Pemangku Pura Pucak Mangu, Jero Mangku Gede memaparkan, Pura Sad Kahyangan khusus Kahyangan termasuk Catur Loka Pala dan Padma Bhuwana. Kalau konsep Catur Loka Pala, Pura Pucak Mangu berada di posisi Selatan
Sedangkan kalau konsep Padma Bhuwana yaitu arah Barat Laut, stana Dewa Sangkhara.
Pura Pucak Mangu juga disebutkan dalam pengider-ider dewata Nawa Sanga yang juga merupakan stana Dewa Sangkhara.
Pura Pucak Mangu yang merupakan pura yang tertinggi di Pulau Bali ini adalah salah satu pura kuna.
Hal ini terbukti dengan banyaknya lingga di sana. Pura ini erat kaitannya dengan pendiri Kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Putu.
Di Pura Pucak Mangu ini pula I Gusti Agung Putu, Sang Pendiri Kerajaan Mengwi, bertapa guna menenangkan diri setelah kalah dalam perang tanding melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari Puri Kakeran.
Baca Juga: Pura Luhur BatukaruTabanan: Stana Dewa Mahadewa, Jadi Tempat Memohon Hujan
“Disini Beliau menggelar tapa brata yoga semadi dan berusaha menemukan jati dirinya agar bisa bangkit kembali, sehingga kembali bisa Berjaya dan mendirikan Kerajaan Mengwi,” katanya.
Karena kalah perang, maka I Gusti Agung Putu lalu ditawan dan diserahkan kepada I Gusti Ngurah Tabanan. Selanjutnya dengan seizin I Gusti Ngurah Tabanan, I Gusti Agung Putu diajak oleh seorang patih dari Desa Marga bernama I Gusti Babalang ke Desa Marga.
Di desa inilah muncul niat I Gusti Agung Putu untuk membalas kekalahannya itu.
Untuk itu I Gusti Agung Putu terlebih dahulu melakukan tapa di puncak Gunung Mangu, di tempat yang kini berdiri Pura Pucak Mangu itu.
Setelah itu I Gusti Agung Putu menantang perang tanding melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng kembali.
Berkat tapanya ini, I Gusti Agung Putu mampu memenangkan perang tanding. Untuk selanjutnya, Sang Pangeran berhasil mendirikan Kerajaan Mengwi seperti tersebut di atas.
Adapun Gunung Mangu ini terletak di sebelah timur laut Danau Baratan. Krama desa Baratan menamai gunung tersebut sebagai Pucak Baratan. Sedangkan orang Desa Tinggan menyebutkan sebagai Pucak Tinggan.
Sementara itu nama Pucak Pangelengan muncul karena saat I Gusti Agung Putu bertapa di Pucak Mangu itu Bhaṭara Pucak Mangu merajah lidah I Gusti Agung Putu.
Setelah itu I Gusti Agung Putu disuruh melihat sekeliling atau ngalengan.
Daerah-daerah yang tampak terang, di situlah daerah kekuasaannya kelak. Itulah sebabnya maka Pucak Mangu disebut pula sebagai Pucak Pangelengan.
Di dalam Pura Pucak Mangu ini terdapat beberapa palinggih, berupa lingga.
Lingga ini terbuat dari terbuat dari batu alam berbentuk segi empat atau Brahma bhaga, berbentuk segi delapan atau Wíṣṇu bhaga, dan bulat panjang atau Siwa bhaga.
“Hal ini berarti bahwa Pura Pucak Mangu ini termasuk pura kuna, yang dibangun sekitar abad kesepuluh sampai abad keempat belas,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika