Secara struktur, Konco Pura Taman Gandasari mengikuti tata pola dasar bangunan tempat ibadah Hindu atau Pura.
Meskipun sebagai tempat ibadah Buddha Tri Dharma, namun konsep tri mandala jelas di Konco ini. Ornamen berwarna merah menyala juga semakin menguatkan karakter dari konco ini.
Pengempon Konco Pura Taman Gandasari, Jero Mangku Suarmi menjelaskan pengaruh agama Buddha, Tao, Konghucu begitu kuat mewarnai Konco Pura Taman Gandasari.
Hal ini terlihat dari Hio Low atau tempat abu dupa dan tata cara upacara dari agama Konghucu lengkap dengan Genta yang merupakan lambang Khonghucu.
Selain itu pemujaan Dewa Dewi dari agama Tao juga menjadi pujaan utama lengkap dengan beduk yang menjadi lambang alat musik pemujaan Tao.
Pujawali di Konco Pura Taman Gandasari juga melibatkan lintas agama yang ngayah di pura ini. Saat pujawali mulai dari membuat sarana upakara, menghias konco dan proses upacara lainnya, mereka ngayah bersama sama.
Mangku Suarmi menyebut khusus untuk umat Buddha Tri Dharma seperti dalam upacara memohon petunjuk dengan cara Ciamshi.
Nunas Ciamshi adalah rangkaian upacara yang dilakukan umat Buddha yang bertujuan untuk memohon petunjuk-petunjuk dalam hidupnya melalui kertas keberuntungan atau kertas petunjuk.
“Nunas Ciamshi sudah terbiasa dilakukan karena seakan kurang lengkap apabila dalam upacara sembahyang tidak melaksanakan tradisi bakar kertas yang dilakukan dengan memohon petunjuk-petunjuk,” paparnya.
Pemakaian kertas mulia atau yang biasa disebut kertas sembahyang dalam agama Buddha Tri Dharma dapat dibedaakan menjadi dua jenis kertas yaitu kertas yang berwarna emas di bagian tengahnya atau disebut Kim Cua.
Umat Buddha yang menggunakan sarana tersebut dalam setiap upacara meyakni bahwa dengan membakar kertas emas dan perak, sama artinya dengan memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa dan leluhur serta arwah-arwah orang yang sudah meninggal.
Membakar kertas emas dan perak ini juga mengandung nilai filosofi agar anak dan sanak keluarga yang masih hidup senantiasa ingat pada leluhur atau keluarga yang telah meninggal.
Tradisi yang hingga kini masih berjalan ini juga sebagai ungkapan balas budi atas jasa, kebaikan selama masih hidup, dan selalu berdoa serta mengharapkan kebahagiaan kepada meraka yang telah meninggal.
Selain sarana upacara yang disebutkan diatas khusus umat Kong Hu Chu dalam melakukan pemujaan juga menggunakan sarana-sarana seperti berbagai jenis bunga, fungsi bunga bagi umat Kong Hu Chu bunga yang digunakan adalah bunga yang baru mekar, berbau wangi dan tidak disukai ulat.
Penggunaan bunga juga dikaitkan dengan Devata yang dipuja, maka bunga yang digunakan oleh umat Kong Hu Chu dalam pemujaan di pelinggih Konco yaitu mawar, melati dan teratai.
Dalam persembahan di pelinggih Konco terdapat beberapa persembahan jajan khusus harus ada dipersembahkan seperti kue mangkok merah, kue ku, dan kue wajik.
Kue-kue tersebut di tata dalam sebuah wadah yang masing-masing ditempatkan dalam satu wadah.
Baca Juga: Ada Relief orang Belanda menaiki Mobil di Pura Segara Madhu, Relief Kamasutra Bukan porno
Selain kue-kue di atas untuk persembahan lain dapat pula digunakan kue-kue lain dengan tetap mempersembahkan tiga macam kue yang harus ada seperti tersebut diatas.
Selain buah-buahan tebu juga merupakan sarana pokok bagi umat Kong Hu Chu dalam melaksanakan pemujaan dan menghaturkan persembahan, tebu tersebut di potong-potong yang panjangnya menyesuaikan dengan panjang yang diinginkan kemudian ditata dalam sebuah wadah.
Teh dan tebu juga sebagai sarana pemujaan bagi umat Kong Hu Chu dan umat Hindu dalam melaksanakan pemujaan di Konco Pura Taman Gandasari.
Umat Buddha juga biasanya menghaturkan makanan berupa nasi dan lauk pauk.
Dalam melakukan persembahan di Konco Pura Taman Gandasari, warga Tiong Hoa selalu mempersembahkan persembahannya dengan hitungan ganjil baik dalam jumlah maupun jenis yang dipersembahkan mulai dari tiga, lima, tujuh, sembilan dan sebelas.
“Ada semacam keyakinan bahwa jumlah yang ganjil merupakan angka yang dianggap keramat dan merupakan lambang yang utama karena tidak terdapat ikatan antara yang satu dan yang lainnya, sehingga yang tanpa pasangan atau ikatan ini akan menuju pada Dewata,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika