Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Petani dan Nelayan Perlu Nangkil ke Pura Sakenan di Pulau Serangan, Ini Alasannya!!

I Putu Mardika • Sabtu, 11 Mei 2024 | 04:38 WIB

 

Pura Dalem Sakenan di Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali
Pura Dalem Sakenan di Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali
JEMBRANA EXPRESS-Pura Sakenan yang terletak di Pulau Serangan, tepatnya di Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali merupakan salah satu pura kahyangan jagat di Bali.

Dalam catatan Sejarah, Pura ini dibangun oleh Maharesi Markandeya pada jaman Bali Kuno, zaman pemerintahan Dinasti Warmadewa meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi.

Pura ini berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Denpasar. Akses menuju tempat suci inipun bisa dijangkau dengan berbagai moda transportasi, seperti roda dua dan roda empat setelah direklamasi puluhan tahun silam.

Dalam berbagai sumber diceritakan, setelah memendem (menanam) Panca Datu di kaki Gunung Toh Langkir (Besakih), Maha Rsi Markandeya menuju arah barat (Desa Taro) kemudian menuju Desa Serangan dan membangun Pura Sakenan.

Sejarah Pura Sakenan juga tidak terlepas dengan tokoh suci lainnya. Seperti Mpu kuturan dan Dang Hyang Nirartha.

Kedatangan Mpu Kuturan dari Pulau Jawa ke Bali, banyak menata bangunan suci yang ada di Pura Sakenan dan mengajarkan ajaran Tattwa Gama.

Baca Juga: CATAT Sepuluh Pura untuk Nunas Pratisentana di Bali: Pelinggih Lingga Yoni Simbol Kesuburan

Kemudian era Sri Aji Dalem Waturenggong memerintah, diceritakan datangnya seorang Brahmana Wangsa bergelar Ida Dang Hyang Nirartha, turun di Pantai Kapurancak pada tahun 1411 saka atau 1489 Masehi, Dang Hyang Nirartha tiba di pulau kecil yakni Serangan.

Di sanalah Dang Hyang Nirartha membangun pelinggih di Pura Sakenan dan melakukan tapa brata yoga semadhi.

Nama Sakenan pun diyakini berasal dari kata sakya yang berarti menyatukan pikiran dengan Sang Hyang Widhi.

Pura Sakenan yang dahulu di bawah Kerajaan Gelgel, kemudian diempon oleh Raja Mengwi. Karena Pulau serangan dan wilayah sekitarnya sampai Bukit Pecatu berada di bawah Kerajaan Mengwi.

Putri Raja yang bergelar Gusti Ayu Bongan dipersunting oleh Raja Badung I Gustu Ngurah Made.

Saat dinobatkan menjadi raja, gelar tersebut berubah menjadi Betara Sakti Pemecutan atau Bethara Maharaja Dewata Pemecutan.

Pura Sakenan kemudian diempon oleh Raja Badung. Karena Raja Mengwi menghibahkan daerah bagian selatan, mulai dalung, bukit pecatu, termasuk wilayah Serangan dan pura Sakenan serta abdi sebanyak 500 kepala keluarga sebagai hadiah perkawinan.

Di areal pura berdiri beberapa pelinggih (tempat pemujaan) yang menggambarkan keharmonisan sosial antar beberapa aliran kepercayaan (sekte) yang berkembang pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa.

Dari beberapa prasasti yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa dapat diketahui mengenai kehidupan dan mata pencaharian masyarakat pada saat itu adalah bercocok tanam.

Jero Mangku Sakenan Alit menjelaskan Pura Dalem Sakenan sebagai tempat memohon agar segala macam penyakit yang merusak tanaman disawah dan ladang dilenyapkan, oleh karena Hyang Sakenan menjaga balang sangit sehingga tidak merusak tanaman padi.

Maka menyebabkan segala jenis tumbuhan yang ditanam, baik yang ditanam di tegalan maupun sawah tumbuh dengan subur.

Baca Juga: Pura Tirta Harum Serangan Denpasar: Perpaduan Hindu-Budha, Telaga Bermula dari Percikan Air  

“Hal ini juga disebutkan dalam purana bahwa Hyang Bhatara Sakenan menjaga walang sangit dan Hyang Bhatari Masceti menjaga tikus agar tidak merusak sawah dan ladang petani,” paparnya.

Selain itu Pura Dalem Sakenan termasuk salah satu Sad Kretiloka. Disebut sebagai simbol Sad Darsana.

Adapun yang disebut Sad Kretih yaitu Atma Kretih, Danu Kretih, Samudra Kretih, Wana Kretih, Jagat Kretih dan Jana Kretih.

Pura Sakenan disebut Samudra Kretih. Sakenan itu sebagai tempat pemujaan Ida Hyang Dewa Biswarna atau Baruna.

“Beliau benar-benar sebagai Segara Pakretih (ketenangan lautan atau samudra) untuk keselamatan dunia, menghilangkan segala jenis rintangan di dunia, dan segala jenis penyakit dan menyucikan segala jenis kala, bhuta dan manusia,” katanya.

Masyarakat disekitar Pura Dalem Sakenan pada umumnya adalah nelayan.

Sebagai penyungsung pura sangat begitu antausias melaksanakan ritual keagamaan (upacara piodalan) yang datang pada hari–hari tertentu saja.

“Biasanya aktifitas ini dimulai sejak akan pergi kelaut untuk menangkap ikan sampai kembali dari laut selalu melakukan upacara–upacara, baik secara individu maupun kelompok,” sebutnya.

Pura Dalem Sakenan sebagai tempat untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, untuk memohon berkah agar mendapat limpahan rahmatnya yang berupa banyak hasil tangkapan para nelayan, kemakmuran, kesejahteraan dan rezeki yang berlimpah dalam kehidupan masyarakat

Oleh karena Pura dalem Sakenan itu merupakan stana Hyang Sandhijaya selalu menjaga ketenangan lautan, penyelamat dunia dan membersihkan segala macam Kalabuta (hal yang tidak baik) yang ada pada manusia dan segala macam jenis penyakit, menghilangkan segala jenis bencana di dunia.

“Dalam dunia pewayangan Hyang Sandhijaya dilukiskan kulitnya hitam, rambutnya hitam ikal, matanya sipit, senjatanya angin yang selalu berjaga-jaga di pantai Selatan, karena pantai Selatan selalu dijaga oleh Hyang Sandhijaya maka pantai Selatan,” ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#serangan #petani #nelayan #hindu #Maharesi Markandeya #hindu bali #Bali Kuno #dinasti #pura #Sakenan #mpu kuturan #bali #denpasar #Warmadewa #Dang Hyang Nirartha