Jero Mangku Sakenan Alit mengatakan pada Utama Mandala Pura Dalem Sakenan terdapat sejumlah Pelinggih atau bangunan suci.
Seperti Pelinggih bebancihan, sebagai sthana Hyang Sandhijaya atau Hyang Baruna dan sebagai ppenghormatan kepada Dang Hyang Niratha.
Bale tajuk sthana Ida Bhatara Rambut Sadana Sakenan, Bale Tajuk tempat upakara/sesaji.
Bale Tajuk sthana Ratu Tuwan Kemedan Bhatara Surengrana yang bertugas mengatur segala upacara dan upakara yang berlangsung.
Di areal utama mandala juga terdapat Bale Tajuk sthana Ratu Tuwan Kemedan Bhatara Jayengrana.
Beliau juga sebagai pengatur segala bentuk upacara dan upakara yang berlangsung disana.
Kemudian ada juga Bale Pesanekan/ bale penyimpenan sebagai tempat penyimpanan segala bentuk pengangge/busana yang digunakan di pura.
Bale Pesanekan tempat beristirahat Jro Mangku Sakenan, Apit lawang berupa Togog/patung raksasa merupakan patung perwujudan Dewa Kala, Apit Lawang berupa Togog/ patung berupa babi, disebut sebagai peliharaaan Ida Bhatara Gunung Agung.
Baca Juga: Petani dan Nelayan Perlu Nangkil ke Pura Sakenan di Pulau Serangan, Ini Alasannya!!
“Pujawali di Pura Sakenan dilaksanakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Kuningan atau bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Pelaksanaanya setiap enam bulan sekali,” katanya.
Pemedek yang nangkil tidak hanya dari wilayah Denpasar dan sekitarnya. Bahkan dari berbagai pelosok di Bali
Sejak persiapan, krama yang ngayah tidak hanya dari krama Serangan saja.
Baca Juga: Pura Tirta Harum Serangan Denpasar: Perpaduan Hindu-Budha, Telaga Bermula dari Percikan Air
“Tetapi ada juga dari daerah Sanur dan beberapa pengayah diluar Serangan mempersiapkan segala keperluan pada saat Piodalan, mulai dari membuat penjor, memasang wastra, menyiapkan sarana upakara,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika