Pura ini berlokasi di jalan Pengembak-Mertasari, Sanur. Lebih mudah diakses dari Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai.
Tempat ini bisa diakses dengan berbagai moda kendaraan, baik menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
Menurut Pemangku Generasi Ketiga Pura Dalem Pengembak, Jero Mangku I Made Ranten, mencertikan jik pura ini sejak 1920 memang sebagai pura umum untuk memohon pembersihan diri secara niskala.
Hal ini tidak terlepas dari asal usul pura ini yang pertama kali ditemukan oleh kakek Jero Mangku Ranten, yaitu Almarhum I Wayan Netep.
Dari cerita yang ia dengar bahwa lokasi berdirinya pura Dalem Pengembak saat ini adalah hutan belantara yang sering digunakan oleh masyarakat Sanur untuk mengembalakan sapi.
Dari cerita mendiang kakeknya, ketika saat sedang mengembalakan sapi di Hutan Pengembak ini, Almarhum I Wayan Netep menemukan batang pohon kelapa (seseh), kemudian dengan tidak sengaja batang pohon kelapa itu dipahat sehingga membentuk patung perempuan.
Seperti biasanya menggembalakan sapi secara nomaden, dan untuk kemudian keesokan harinya meggembalakan di area yang berbeda.
Baca Juga: Ini Alasan Nyapuleger di Pura Siwa Manik Dalang dimulai Jejeg Ai
Selama berbulan-bulan patung perempuan tersebut dibiarkan tidak terawat di tengah hutan Pengembak, hingga kemudian saat patung itu ditemukan kembali, mengeluarkan air, seperti orang menangis.
Saat itulah almarhum I Wayan Netep, langsung tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Dalam kondisi yang tidak sadar seperti itu, roh-nya diajak berkeliling oleh Sang Penunggu Hutan, yakni Ida I Gusti Ngurah Jom.
“Dari cerita kakek Netep, beliau mendapatkan petunjuk jika air yang keluar dari patung yang dibuatnya itu bisa digunakan sebagai sarana untuk membersihkan diri secara niskala atau disebut melukat bagi umat Hindu,” kenangnya.
Termasuk juga bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan orang dari sakit non medis. Setelah petunjuk didapatkan, almarhum I Wayan Netep kemudian menjadi sadar kembali.
Pengalaman itu diceritakan kepada keluarga.
Sejak saat itu lokasi dibersihkan dan digunakan untuk area persembahyangan.
Baca Juga: Lahir di Wuku Wayang? Bisa Nyapuleger di Pura Siwa Manik Dalang
Hingga secara perlahan umat mulai ada yang datang untuk sembahyang dan melukat di pura Dalem Pengembak.
Namun areal pura dan palinggih belum melalui upacara pemelaspas dan mendem pedagingan.
Ia menceritakan, Saat itu sang kakek I Wayan Netep jatuh sakit kembali, sakitnya cukup parah, hingga tidak bisa bangun.
Saat sakit tersebut, sang kakek I Wayan Netep didatangi oleh Ida Ratu Ayu Manik Mas Meketel sebagai penguasa wilayah Sanur.
Kedatangan Ida Ratu Ayu Manik Mas Meketel, dikatakan oleh Jero Mangku Ranten bertujuan untuk bersemayam di Pura Dalem Pengembak, namun karena pura tersebut belum diplaspas, maka beliau tidak berkenan berstana di pura tersebut.
Sehingga sang kakek I Wayan Netep, diberikan petunjuk kembali untuk datang ke Griya Delod Pasar untuk mendapatkan bimbingan dan penjelasan mengenai proses ritual pemelaspas di pura tersebut.
Untuk itu ritual dibuat sesuai dengan petunjuk Ida Pedanda di Griya Delod Pasar, sehingga diyakini Ida Ratu Ayu Manik Mas Meketel berstana di Pura ini.
Almarhum I Wayan Netep menjadi pemangku di pura Dalem Pengembak hingga tutup usia dan dilanjutkan oleh keturunannya hingga sekarang. (dik)
Editor : I Putu Mardika