Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Dulu Sungai Banyumala jadi Tempat Buang Mayat, Sekarang Jadi Tempat Melukat: Ini Kisahnya

I Putu Mardika • Selasa, 14 Mei 2024 | 16:19 WIB

 

Jro Mangku Gede, Gede Ferry Hariawan saat menunjukkan Pura Tirta Sudhamala yang dijadikan tempat melukat di Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng
Jro Mangku Gede, Gede Ferry Hariawan saat menunjukkan Pura Tirta Sudhamala yang dijadikan tempat melukat di Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng
JEMBRANA EXPRESS-Pura Tirta Sudhamala yang terletak di Jalan Sudirman, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng senantiasa menjadi tempat melukat favorit bagi masyarakat di Buleleng.

Di tempat ini pemedek  tidak hanya bisa melukat, namun juga nunas tamba (obat) bagi yang mengalami sakit non medis.

Tidak sulit mengakses Pura Tirta Sudhamala. Pemedek yang hendak tangkil bisa menjadikan acuan Patung Dewa Ruci yang berada di simpang tiga antara Jalan Udayana dengan Jalan Sudirman.

Di sebelah barat terdapat Gang VI yang menjadi jalur menuju Pura Sudhamala.

Jro Mangku Gede, Gede Ferry Hariawan, 50 merupakan pemangku di pura ini. Ia dengan sangat ramah melayani pemedek yang melukat.

Terlihat sejumlah pengempon sibuk mereresik atau bersih-bersih di areal pura. Sejumlah pemedek juga terlihat melukat di seberang Sungai Banyumala yang posisinya sebelah barat Pura Tirta Sudamala.

Dikatakan Mangku Ferry tidak ada catatan sejarah sejak kapan berdirinya Pura Tirta Sudamala.

Namun, dari penuturan para pendahulunya, jika pada zaman Raja Panji Sakti, Sungai Banyumala kala itu kerap dijadikan sebagai benteng perbatasan dari Kerajaan Buleleng.

Pada zaman itu juga tercatat beberapa kali terjadi peristiwa peperangan antar wilayah di perbatasan Sungai Banyumala tersebut.

Di antaranya adalah perang antara Sambangan dengan Bangkang. Pernah juga antara Bangkang dengan Bangah. Termasuk Bangkang dengan Banyumala.

Dalam peperangan tersebut banyak penduduk yang gugur dan mayatnya dibuang ke Sungai Banyumala.

Baca Juga: Ingin Nangkil ke Pura Dalem Pengembak? Begini tata Cara Melukat

Sehingga air sungai menjadi tercemar akibat mayat yang membusuk di sepanjang aliran sungai Banyumala.

Pada suatu ketika terjadi peristiwa yang sangat penting di Sungai Banyumala. Yaitu terjadi sebuah ledakan yang cukup besar hingga terdengar sampai radius 500 meter.

Setelah ledakan itu, penduduk setempat langsung mendatangi sumber ledakan tersebut dan menemukan sebuah sumber air yang memancur deras di tempat terjadinya ledakan tersebut.

Usai di cek, ternyata semburan tersebut berasal dari sebuah goa yang ada di sungai Banyumala. Dikatakan Mangku Ferry, saat itu seorang penduduk mengalami kesurupan dan menyebutkan kalau goa itu tembus hingga menuju Segara Banyumala,

“Yang kesurupan meyakinkan penduduk bahwa semburan tersebut merupakan air suci yang dapat digunakan untuk membersihkan Sungai Banyumala yang tercemar dan mengandung racun atau mala," jelasnya.

Baca Juga: Pura Dalem Pengembak Sanur: Berawal dari Batang Pohon Kelapa yang Dipahat, Kini jadi Tempat Melukat

Lanjutnya, nama Pura Tirta Sudhamala sejatinya berawal dari keinginan krama Desa Banyuasri untuk menata keberadaan sumber air yang dulu lebih dikenal sebagai Tukad Banyumala.

Saat krama desa ngaturang piuning terkait rencana penataan tersebut, namun tiba-tiba salah seorang krama presutri mengalami kerauhan.

Dan ternyata yang rawuh itu adalah Ida Petapakan yang bernama Dewa Ayu Manik Sudhamala.

“Beliau memberi petunjuk agar kelak setelah bangunan pura rampung dibangun, agar diberi nama Pura Tirta Sudhamala,” imbuhnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#pura tirta sudhamala #hindu #melukat #hindu bali #buleleng #pura #bali #Tirta #Banyumala