Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Keunikan Upacara di Pura Luhur Pucak Sangkur Tabanan, Pantang Gunakan Genta dan Tidak Boleh Dipuput Sulinggih

I Putu Mardika • Selasa, 9 Juli 2024 | 16:55 WIB
Pura Luhur Pucak Sangkur yang merupakan pura kahyangan jagat di DesanAdat Kenbang Merta Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.
Pura Luhur Pucak Sangkur yang merupakan pura kahyangan jagat di DesanAdat Kenbang Merta Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.

JEMBRANAEXPRESS.COM - Pura Luhur Pucak Sangkur memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari pura-pura lainnya di Bali.

Pemangku di pura ini pantang menggunakan genta, dan pujawali tidak boleh dipuput oleh ida Sulinggih atau Pandita, demi menjaga keaslian ritual dan menghindari kesan memada-mada.

Baca Juga: Pura Luhur Pucak Sangkur: Keindahan Spiritual di Ketinggian Bedugul Merupakan Stana Siwa Pasupati

Jero Mangku Wayan Artana, pemangku Pura Luhur Pucak Sangkur, menjelaskan bahwa di wilayah Desa Adat Kembang Merta, tempat pura ini berada, ada larangan bagi ida sulinggih untuk memimpin ritual, termasuk saat pujawali.

“Di wilayah Desa Adat Kembang Merta ida sulinggih dilarang muput. Juru sapuh atau pemangku yang ngayah di pura juga dilarang menggunakan bajra agar tidak memada-mada,” jelasnya.

Pura Luhur Pucak Sangkur yang merupakan pura kahyangan jagat di DesanAdat Kenbang Merta Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.
Pura Luhur Pucak Sangkur yang merupakan pura kahyangan jagat di DesanAdat Kenbang Merta Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.

Di area Pura Luhur Pucak Sangkur, terdapat tirta penglukatan yang bisa dimohon oleh pemedek untuk digunakan dalam Karya Pujawali, baik karya agung maupun alit.

Baca Juga: Pura Siwa Budha di Desa Adat Kembang Merta: Dari Penemuan Keris hingga Tempat Memohon Kesembuhan

Selain itu, terdapat Tirta Pingit Manik Sudamala yang berkhasiat untuk menghilangkan mala leteh, serta Tirta Pecaruan untuk berbagai jenis karya upacara.

Tirta pemijil agung dan alit pujawali juga dapat diperoleh di sini.

Mangku Wayan Artana menjelaskan bahwa dalam pujawali di pura ini, ada pantangan menggunakan daging babi dan sarana berwarna merah, termasuk bunga dan pakaian.

“Seperti jajan merah, bunga merah itu dilarang, makanya bunganya putih dan kuning yang sering digunakan. Termasuk pakaian berwarna merah juga,” ungkapnya.

Pura Luhur Pucak Sangkur yang merupakan pura kahyangan jagat di DesanAdat Kenbang Merta Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.
Pura Luhur Pucak Sangkur yang merupakan pura kahyangan jagat di DesanAdat Kenbang Merta Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali.

Selain itu, di pura ini juga terdapat kisah mistis tentang Juuk Linglang, jeruk yang konon dulu ada namun kini sudah mati, meski secara niskala masih ada.

“Kadang ada bau jeruk. Tidak setiap hari. Ada juga pemedek yang melihat, setelah didekati tiba-tiba hilang,” tambahnya.

Baca Juga: Melukat di Air Telaga Waja Pura Dalem Batu Pageh, Jejak Spiritual Dang Hyang Nirartha Yang Berada Di Tebing Goa Menghadap Langsung Ke Samudra Hindia

Pura Luhur Pucak Sangkur, yang diempon oleh Banjar Adat Kembang Merta dan Banjar Adat Antapan, sering dikunjungi oleh berbagai kalangan, termasuk Sulinggih, Ida Sri Bhagawan, Jro Mangku, dan Dasaran, untuk memohon restu. Banyak juga yang datang karena pawisik, konon beliau guru nabe di niskala.

Piodalan atau Pujawali Pura Pucak Sangkur jatuh pada Hari Pagerwesi. Saat pujawali, pemedek dari berbagai pelosok Bali datang untuk melakukan persembahyangan.

“Pemedek yang punya masalah bisa sungkem di pelinggih beliau, sebagai bentuk curhat seperti anak dengan ibunya. Ada juga yang memohon pasupatian, pemuput yang ngenteg linggih, nunas penglukatan, dan penyudamala,” tutup Mangku Wayan Artana.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#Pura Luhur Pucak Sangkur #Siwa Pasupati #tabanan #bajra