JEMBRANAEXPRESS.COM – Di balik meriahnya Kuta, terdapat situs sejarah yang menyimpan kisah perjuangan Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit yakni Pura Dalem Cedok Waru.
Situs itu adalah Pura Dalem Cedok Waru, sebuah pura kuno yang berada di kawasan Pantai Jerman, tepatnya di Banjar Segara, Desa Adat Kuta, di belakang Holiday Inn Resort Baruna Bali dan The Patra Bali Resort.
Keberadaan Pura Cedok Waru erat kaitannya dengan perjalanan Gajah Mada dalam menyatukan Nusantara.
Nama “Cedok Waru” diambil dari pohon waru yang daunnya menyerupai wadah kecil (cedokan) untuk minum.
Konon, para prajurit Majapahit menggunakan daun tersebut untuk menampung air dari sebuah telaga bertuah yang kini menjadi salah satu peninggalan sakral di pura ini.
Pura Kuno Peninggalan Bali Kuno dan Majapahit
Pura ini diyakini telah ada sejak era Dinasti Warmadewa di Bali, dengan struktur arsitektur mengikuti konsep Asta Kosala-Kosali dan Asta Bumi.
Memiliki dua mandala utama, yaitu Nista Mandala (halaman luar) dan Utama Mandala (jeroan), pura ini tetap mempertahankan bentuk kuno dan kesakralannya hingga kini.
Dikelilingi pepohonan seperti kayu jaran, pudak, dan pohon cedok waru, suasana di sekitar pura sangat asri dan tenang.
Selain sebagai tempat ibadah umat Hindu, Pura Cedok Waru juga menjadi lokasi ritual melukat—pembersihan diri secara spiritual—karena dipercaya air dari telaganya dapat menyembuhkan penyakit.
“Air di telaga tidak pernah kering, meski berada dekat dengan laut. Rasanya tetap tawar dan jernih,” ungkap I Nyoman Graha Wicaksana, Kelian Penyungsung Pura Cedok Waru.
Warisan Sejarah Gajah Mada di Pesisir Kuta
Sejarah mencatat, di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Pantai Jerman, pernah terjadi pendaratan besar-besaran oleh pasukan Patih Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi (1265 Caka).
Mereka menjejakkan kaki di Pasih Perahu Sekeh Kutha dan mengalami kelelahan berat. Saat itu ditemukanlah sebuah telaga air tawar yang menjadi penyelamat bagi para prajurit.
Karena tak memiliki wadah, mereka menggunakan daun pohon waru sebagai alat penampung air. Dari sinilah muncul nama “Cedok Waru”.
Bahkan sistem pengaliran air yang mereka buat masih digunakan hingga sekarang, menjadikan telaga tersebut sebagai situs penting dalam sejarah dan spiritualitas Bali.
Kaya Simbol Spiritual: Arca Singa hingga Arca Merak
Keunikan lain dari Pura Cedok Waru adalah keberadaan berbagai arca sakral. Salah satunya adalah Arca Singa Nata Raja dari kayu cepaka, simbol kendaraan Sang Buddha menuju Nirwana.
Dalam Hindu, singa melambangkan kekuatan dan perlindungan bagi umat.
Ada pula Arca Merak—simbol kendaraan Dewi Saraswati, sakti dari Dewa Brahma—yang digunakan khusus pada Hari Raya Saraswati.
Warna hijau pada arca melambangkan kewibawaan, sedangkan emas melambangkan kemakmuran.
Tak ketinggalan, Arca Ida Bhatara Sesuunan Lanang Istri dari kayu cendana menjadi simbol Arda Nameswara, perwujudan seimbang maskulin dan feminin dalam konsep ketuhanan Hindu. Arca ini menjadi pusat persembahyangan di pura tersebut.
Menariknya, Pura Cedok Waru juga dikunjungi oleh umat lintas keyakinan. “Bahkan umat Tionghoa juga sering datang untuk sembahyang di sini,” tutur Nyoman Graha Wicaksana.(*)
Editor : Suharnanto