JEMBRANAEXPRESS.COM - Suasana sakral dan khusyuk menyelimuti area Pemerajan Agung Sakti, Padangsambian, Denpasar, pada Soma Umanis Tolu, bertepatan dengan Purnama Kapat, Senin (6/10).
Ratusan krama dan pengempon tampak khidmat mengikuti Puncak Karya Mamungkah, Padudusan Agung, Menawa Ratna, Tawur Balik Sumpah Utama, Melaspas, serta Mupuk Pedagingan.
Karya agung ini bukan sekadar penyucian parahyangan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat jati diri umat Hindu sekaligus merekatkan solidaritas pasemetonan.
Prosesi puncak karya yang turut dihadiri Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, berlangsung penuh taksu dan diwarnai dengan keagungan sarana upakara yang tergolong utama.
Rangkaian upakara meliputi banten Catur Muka, Luhur Akasa Mepedudusan Agung, Menawa Ratna, Guru Bendu Piduka, Pejati Munggah, Catur Rebah, Bebangkit, Sorohan Pulegembal, serta eteh-eteh peselang khas upakara pedudusan agung.
Baca Juga: Pura Cedok Waru, Jejak Patih Gajah Mada dan Telaga Bertuah di Kuta yang Dipercaya Sembuhkan Penyakit
Setelah persembahyangan bersama, prosesi dilanjutkan dengan mepeselang dan mejejiwan, di mana Ida Betara katuran munggah ke peselang.
Skala besar yadnya ini ditandai dengan kehadiran sembilan sulinggih yang muput atau memimpin jalannya upacara, yaitu:
• Ida Pedanda Gelgel (Griya Belayu)
• Ida Pedanda Griya Batas Dawas
• Ida Pedanda Buda Keling (Griya Bekul Manis)
• Ida Bhujangga Waisnawa
• Ida Rsi Agung Putra Adnyana (Griya Lanang Dawan Padangsambian)
• Ida Pedanda Budha Sikara (Griya Budha Tabanan)
• Ida Pedanda Gede Darma Putra Beji
• Ida Pedanda Istri Wulan
• Ida Pedanda Keniten (Griya Braban Kaleran)
Baca Juga: Tari Nyenuk, Tarian Sakral Bali yang Terdengar Asing: Hanya Dipentaskan 74 Tahun Sekali
Manggala Pemerajan Agung Sakti, Anak Agung Kompiang Ariana, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian upacara.
Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan pemerintah dan seluruh pihak yang turut hadir.
“Kami mewakili seluruh penyungsung Merajan Agung Sakti mengucapkan terima kasih kepada Bapak Walikota Denpasar dan perwakilan Pemerintah Provinsi Bali yang telah berkenan hadir. Kehadiran beliau menjadi penyemangat bagi kami,” ujarnya.
Sementara itu, Penasihat Pembangunan Pemerajan Agung Sakti, Anak Agung Ketut Asmara Putra, menekankan bahwa karya ini memiliki makna sosial dan spiritual yang luas.
Baca Juga: Tradisi Unik Nyepi Uma di Desa Bungkulan Buleleng: Dilaksanakan di Sawah yang Melanggar Didenda
“Karya ini bukan sekadar ritual, tetapi wadah mempererat persaudaraan dan solidaritas antarumat. Semoga semangat kebersamaan ini menjadi teladan bagi merajan dan pura lainnya di Bali,” ungkapnya.
Pesan spiritual mendalam juga disampaikan oleh salah satu sulinggih yang muput karya, Ida Rsi Agung Putra Adnyana dari Griya Lanang Dawan Padangsambian. Beliau menekankan pentingnya implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui upacara penyucian ini, umat diharapkan kembali pada jati diri, meningkatkan pengamalan Tri Hita Karana — menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan (Parahyangan), alam (Palemahan), dan sesama manusia (Pawongan). Inilah kunci kedamaian sejati,” pesan Ida Rsi.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa