Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Rekam Jejak Maha Rsi Markandeya di Pura Gunung Raung Desa Taro

I Putu Mardika • Kamis, 16 Mei 2024 | 05:41 WIB

 

Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya
Pura Gunung Raung, di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar yang menjadi jejak sejarah perjalanan suci Maha Rsi Markandeya
JEMBRANA EXPRESS-Jejak perjalanan tokoh suci Maha Rsi Markandeya tergurat jelas di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali.

Peninggalan Maha Rsi Markadeya juga bisa ditemukan di Pura Gunung Raung yang ada di Desa Taro.  

Tokoh Masyarakat Desa Taro, I Wayan Warka menjelaskan nama Desa Tua Taro sendiri muncul pada zaman Markandeya Purana.

Berdasarkan purana tersebut dijelaskan jika Rsi Markandya lahir di India dari restu Siwa pada abad ke-4. Beliau menuju Asia Tenggara, Kalimantan Timur, lanjut sampai ke Pulau jawa.

Markandeya karena diberi restu oleh Siwa, maka Beliau di beri gelar Maha Yogi Markandya artinya dari pertapaan Markandya sangat kuat bahkan digoda Indra pun tapa Beliau tidak tergoyahkan. Akhirnya keluar Siwa memberi Beliau, Markandya Maha yang artinya besar.

Sedangkan Yogi artinya pertapa Markandya minta umur panjang kepada Tuhan (Siwa). Setelah Yogi Markandya ada di Indonesia di abad ke-4 beliau akhirnya sampai di Pulau Kalimantan Barat, lanjut ke Jawa Barat.

Beliau melihat ke Timur sampai Gunung Damalung, di Gunung ini Beliau digoda banyak raksasa, maka larilah Beliau ke Gunung Dieng, dari Gunung Dieng Beliau mampu mengalahkan raksasa (kejahatan) yang ada di Gunung Damalung.

Baca Juga: Pura Tirta Sudhamala: Ramai saat Kajeng Kliwon dan Purnama  

Akhirnya, pergilah Beliau ke Gunung Raung di Jawa Timur. Dari sini Beliau melihat ke timur, ada kemilau sinar yang di tangkap oleh pandangan Beliau dan dari Gunung Raung ini beliau mengangankan hendak menuju sinar itu.

Anehnya, pada saat itu sudah ada penduduk yang namanya Wong Aga. Beliau mampu mengumpulkan tenaga 400 orang untuk mencari sinar di Timur itu. Perjalanan Beliau lanjut ke Jawa Timur dan ternyata sinar itu berada di Gunung Toh Langkir (Gunung Agung).

Dari restu Siwa itulah Beliau mendapat kekuatan untuk mengetahui baik yang ada maupun yang belum ada bahwa Gunung Agung itu puncaknya Himalaya yang ada di India.

Karena hutan yang ada di Pulau Jawa itu panjangdan sangat kramat banyak pengikut Beliau yang mati.

Beliau kembali ke Gunung Raung beryoga, dari yoganya yang ke-2 (dua) dengan Panca Datu. Akhirnya, Beliau kembali mampu mengumpulkan Wong Aga sebanyak 8000 orang.

Beliau langsung mengajak pengikutnya dengan membawa Panca Datu ke Gunung Agung.

Sampai di lereng Gunung Agung menemukan tumpukan batu, mungkin saja tumpukan batu itu tempat pemujaan pengikut Beliau yang masih hidup.

Akhirnya, Panca Datu itu ditanam disana. Dari lereng Gunung Agung, Beliau menuju ke Barat dengan pengikut-pengikutnya sampailah di Ponorajon (Penulisan).

Sampai di Puncak Penulisan, Beliau berhenti sejenak, melihat ke arah Barat, dari kekuatan Beliau tempat yoganya di Gunung Raung Beliau melihat ke timur Gunung Agung,

Melihat ke utara India tempat lahir Beliau, melihat ke Selatan untuk persiapan tempat Beliau. Akhirnya pengikut Beliau disuruh ke Selatan membentuk rumah (asrama).

Pengikut-pengikut Beliau lama tidak datang ke Puncak Penulisan.

Beliau turun berjalan ke selatan sampai di Pura Sabang Deet dan datanglah pengikut-pengikut Beliau disana, ditanya pengikut-pengikutnya “Mengapa tak datang ke Penulisan?” Karena tempat tersebut tidak kurang makan juga minum, sehingga tempat itu diberi Nama Sarwa Ada (Taro).

Dari sanalah membagi-bagikan tanah perkebunan subak. Sekarang diberi Nama Desa Puakan. Lanjutlah Beliau ke Sarwa Ada (Taro).

Beliau melanjutkan perjalanan ke selatan sampai di sungai Wos Campuhan.

Beliau beryoga di sana bahwa Sapta Ganggayang ada di India ada di sana seperti Gangga, Saraswasti, Serayu, Narmada,Yamuna, dan Sindu, sehingga Beliau membuat pelinggih bernama Pura Gunung Luah.

Baca Juga: Ingin Nangkil ke Pura Dalem Pengembak? Begini tata Cara Melukat

Gunung artinya tinggi, Luah artinya sungai. Ida Rsi Markandeya mengganti nama hutan mautama menjadi Sarwo Ade yang dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai serba ada.

Di tempat yang dinamakan Sarwaa Ade ini merupakan hutan kayu dan karena terdapat pohon yang menyala di Sarwa Ade ini akhirnya tempat ini dinamakan Desa Taro yang berasal dari kata “taru” yang artinya pohon.

Peninggalan Ida Rsi Markandeya sampai saat ini disucikan di Pura Gunung Raung di Desa Taro, berupa batu, emas, lingga yoni, arca dalam bentuk kayu dan masih ada beberapa peninggalan beliau di dalam pura Gunung Raung, akan tetapi ada satu peninggalan Ida Rsi Markandeya yang memang disakralkan dinamakan degan Ratu madeg yaitu berupa tombak.

“Sesuai dengan namanya yaitu Ratu Madeg, madeg yang berarti tegak maka, tombak suci tersebut ditempatkan secara tegak lurus dan diyakini bila tombak tersebut miring ke salah satu arah mata angin maka akan terjadi kebakaran hutan atau kayu kemana arah tombah itu miring,” jelasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#gunung raung #Rsi Markandeya #hindu #hindu bali #pura #bali